CERPEN : Cinta Bersemi Dalam Perjalanan



Malam itu, hujan deras mengguyur kawasan Sudirman. Lampu-lampu kota Jakarta tampak buram di balik kaca depan Kijang Inova Reborn hitam milik Satria. Wiper bergerak menyapu air hujan yang terus berjatuhan, menciptakan ritme monoton yang memecah keheningan di dalam kabin.

Di samping Satria, Vina duduk bersedekap. Tatapannya tertuju lurus ke luar jendela, memperhatikan titik-titik air yang merambat turun. Sudah 45 menit mereka terjebak macet total. Tidak ada percakapan, hanya suara mesin mobil yang menderu halus dan lagu indie dari Head unit yang diputar pelan depan Dashboard mobil.

Satria dan Vina adalah rekan kerja di sebuah perusahaan agensi periklanan. Selama dua tahun mengenal Vina, Satria selalu melihatnya sebagai wanita yang perfeksionis, tegas, dan dingin. Satria sendiri adalah sosok yang santai dan sering membalas ketegangan Vina dengan gurauan. Malam ini, karena mobil Vina mogok di kantor, Satria menawarkan tumpangan, sebuah keputusan yang kini terasa memcanggung bagi keduanya.

"Masih jauh ya, Satria?" suara Vina akhirnya memecah hening. Suaranya terdengar lelah, melupakan kesan galak yang biasa ia tampilkan di kantor.

"Iya, nih. Kayaknya ada genangan di depan, makanya macet parah," jawab Satria pelan. "Santai aja, Vin. Anggap aja tempat rehat sejenak dari *deadline* Pak Dias."

Vina terkekeh tipis. Sebuah tawa renyah yang belum pernah Satria dengar sebelumnya. "Pak Dias kalau ngasih revisi memang suka enggak pakai perasaan," gumam Vina seraya menyandarkan kepalanya ke kursi.

Satria menoleh sebentar, memperhatikan garis wajah Vina yang diterangi cahaya samar dari layar dashboard. Ada kehangatan yang tak pernah ia sadari. "Kamu selalu kelihatan tegar banget di kantor, Vin. Aku pikir kamu enggak pernah merasa capek."

Vina menghela napas panjang. Udara dingin dari AC membuat napasnya mengembun tipis. "Harus kelihatan tegar, Satria. Kalau aku lemah dikit, orang-orang di kantor bakal meragukan kemampuan ku. Tapi ya... jujur malam ini aku capek banget."

Satria meraih botol kopi kemasan di dekat tuas transmisi, lalu menyerahkannya pada Vina. "Minum dulu. Bukan kopi mahal sih, tapi lumayan buat nahan kantuk."

Vina menerima botol itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan tangan Satria. Sebuah desir halus merambat cepat di dada Satria, membuat dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Vina tersenyum manis saat menerima minuman itu.

"Makasih ya, Satria. Kamu ternyata peka juga," ucap Vina halus.

Seiring berjalannya waktu dan roda mobil yang hanya merayap beberapa meter setiap sepuluh menit, ruang sempit di dalam mobil itu perlahan berubah menjadi tempat paling nyaman bagi mereka. Dinding pertahanan yang Vina bangun selama bertahun-tahun runtuh malam itu.

Mereka mulai bercerita tentang banyak hal: kisah masa kecil, impian yang belum terwujud, hingga luka lama dari hubungan masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh. Satria mendengarkan setiap patah kata Vina dengan sungguh-sungguh, sementara Vina merasa menemukan sosok penyemangat yang selama ini ia cari dalam diri Satria.

"Aku enggak pernah cerita soal ini ke siapa pun di kantor," bisik Vina pelan, menatap Satria dengan mata yang berbinar hangat.

Satria menepi sebentar ketika mobil benar-benar berhenti total di lampu merah. Ia membalas tatapan Vina, lalu tersenyum lembut. "Aku senang kamu mau cerita ke aku, Vin. Di luar sana emang bising dan penuh tekanan, tapi di dalam mobil ini, kamu boleh jadi diri kamu sendiri."

Kata-kata itu mendarat tepat di hati Vina. Ada perasaan hangat yang mendadak menyeruak, menggantikan dinginnya malam dan rasa lelah akibat kemacetan Jakarta. Vina menyadari sesuatu, ia tidak lagi peduli seberapa macet jalanan malam ini, selama ia berada di dalam mobil ini bersama Satria.

Ketika jalanan mulai terurai dan mobil merayap mendekati kompleks perumahan Vina, suasana kembali hening. Namun, bukan lagi keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan perasaan tersirat yang belum terucap.

Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Vina. Hujan telah reda, menyisakan aroma tanah basah yang menyegarkan.

"Udah sampai, Vin," kata Satria pelan, ada sedikit nada berat di suaranya karena harus mengakhiri perjalanan ini.

Vina melepas sabuk pengamannya, namun ia tidak langsung membuka pintu. Ia menoleh ke arah Satria. "Makasih banyak ya buat tumpangannya... dan buat obrolannya malam ini, Satria."

"Sama-sama, Vin. Istirahat yang cukup ya."

Sebelum keluar, Vina memberanikan diri menggenggam tangan Satria yang berada di atas kemudi. Satria terkejut, namun dengan cepat membalas genggaman itu.

"Satria... besok-besok, kalau mobil aku sudah benar, boleh enggak aku tetap numpang mobil kamu lagi?" tanya Vina dengan pipi yang sedikit merona.

Satria tersenyum lebar, rasa bahagianya tak lagi bisa dibendung. "Boleh banget, Vin. Pintu mobil ini selalu terbuka untukmu."

Vina tersenyum manis lalu melangkah keluar dari mobil. Satria memperhatikan langkah Vina hingga wanita itu masuk ke dalam rumah dan melambaikan tangan dari balik pintu. Di dalam ruang sempit sebuah Kijang Inova Reborn di tengah guyuran hujan Jakarta, benih-benih cinta itu telah bersemi dengan indah.





~ THE ~ END ~

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Wkwkwk.. Satria dapat durian runtuh nih, saya curiga jangan-jangan mobilnya Vina ngga mogok beneran..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti ada unsur Sabotase yee Huu!! Biar dapet sesuatu.🤣🤣🤣

      Hapus
    2. Nah itu, dia paham juga.. wkwkwk

      Bisa kali ceritanya dilanjutin?

      Hapus
    3. Udah ngeblank gue nulis cerpen atau Cerbung Terlalu panjang.🤣🤣🤣 Yang ada malah stak berbulan2, mending yang pendek2 aja.🤣🤣🤣

      Hapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)

Close Menu